From Penpal to Hubby




“Kangen” single pertama di album Dewa 19 yang juga dinyanyikan grup band Dewa 19, rilis pada tahun 1992. Rasanya gak berlebihan kalo lagu ini dianggap sebagai all time-hits atau lagu abadi, soalnya walau sudah 25 tahun mengudara, lagu ini masih digemari  sampai sekarang.
Ngomongin lagu Kangen jadi ingat kenangan masa lalu saat masih memadu kasih (cie...cie...) jarak jauh dengan mantan terindah. Jadi ceritanya kalau orang lagi pacaran itu pasti sukanya ngepas-ngepasin keadaan dengan lagu yang lagi hit. Nah...gitu juga diriku, lirik lagu kangen itu begitu mewakili perasaan dan keadaanku waktu itu. Komunikasi melalui surat (sekali-kali kalau lagi banyak duit interlokalan). Memendam rindu nan membaraπŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜. Ceeiiileeee...😊😊😊😊..
Sebut saja Bimo, sang mantan terindah. Beliau yang terhormat ini,  awalnya sahabat penaku. Beliau tinggal di Parakan, kota kecamatan dalam wilayah Kabupaten Temanggung. Aku dan beliau berkenalan melalui tabloid Jumat (sekarang tabloidnya udah gak terbit lagi alias almarhum). Awal pertemanan kami biasa aja. Saling bercerita tentang hobby, keluarga, kegiatan sehari-hari (waktu itu kami masih mahasiswa). Yang jelas berkomunikasi melalui surat itu ibarat dua orang teman yang bertemu terus ngobrol asyik di warung bakso, atau di halaman kampus, atau di dalam angkot, pokoknya di mana aja deh. Kadang-kadang sebagai pengganti surat, aku merekam suara di kaset, bercerita panjang lebar tentang segala hal, terus  kaset itu aku kirim ke beliau. Nun jauh di seberang pulau beliau mendengarkan suaraku melalui tape recorder. Hahahah...πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… Kalau ingat jaman-jaman begini sih diriku merasa agak lebay. Ya iyalah...coba aja bayangin pas proses ngerekam suara itu, lha apa gak seperti orang gila, bicara sendirian di kamar.😜😜😜 Pintu kamar di kunci rapat-rapat, biar ibu atau kakak-kakakku gak ada yang bisa nguping apa yang aku omongin...hahaha. Perjuangan banget deh.  Sayangnya kaset-kaset rekaman suaraku itu sudah gak ada yang tersisa, udah gak punya dokumentasi lagi.  Tapi...kalo surat-surat masih tersimpan rapi sampe sekarang.
 
Surat pertama yang aku terima dari beliau. Dulu kalau dapat surat dari teman-teman pena selalu aku kasih tanda surat ke berapa, dan diterima tanggal berapa. Tuh..di pojok tertulis 240395, berarti aku terima tanggal 2 Maret '95.
Surat pertama yang aku kirim untuk beliau.




Dan aku gak pernah terbersit kalau persahabatan kami bakal berlanjut ke pelaminan. Sewaktu bersahabat dengan beliau, aku masih berstatus pacar dari seorang lelaki lain di Medan. Begitupun dengan beliau, yang masih memiliki kekasih cewek Betawi  bermukim di ibukota. Awalnya Cuma iseng, ketika beliau tiba-tiba mengajukan pertanyaan, “Mau gak jadi pacarku?”😯😯😯
Hmmm...aku gak yakin dengan pertanyaannya. Tapi justru karena gak yakin itu aku memberikan jawaban “Ya”.
 Logikaku berkata,”Ah...dia jauh. Hubungan ini cuma iseng, Cuma sekedar hubungan di atas bercarik-carik kertas.”  
 Maklum bo’ jaman dulu ongkos pesawat mahal, gak seperti sekarang naik pesawat dah seperti naik angkot aja. Jadi kupikir gak mungkinlah beliau datang menemuiku di Medan.
Haaiiiyyyaaa...ternyata kenyataan berbicara lain. Setelah aku meng-iya-kan pernyataan cintanya, eh..di surat berikutnya beliau bilang,”Bapak ibuku mau ke Medan. Mau ngelamar kamu.”😲😲😲
Alamaaakkk....matehok sopir (Kalo ini ungkapan kaget orang Medan, susah terjemahinnya).πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦ Jadilah aku kebingungan bukan kepalang. Bayangin aja, dia udah bawa-bawa orang tua segala bro. Lha...terus piye caranya aku ngomong ke ayah ibu, wong mereka ngertinya aku pacaran sama A (memang namanya Arli), lha tau-tau yang datang ngelamar koq si B (memang namanya Bimo). Lha piye iki bro n sist ? Mumet siraku.
Ya udah, akhirnya berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Siapkan phisik dan mental menghadap ayah dan ibu.
“Bu, Yah, minggu depan orang tua Bimo mau datang ngelamar.”
“Bimo siapa?” Ibuku bingung.
Eng...ing...eng...episode narasipun dimulai. Panjang, lebar, detail, klimaks, anti klimaks. Selesai. Dan ibuku masih tetap bingung.
Okelah kalau begitu, agar kebingungan ini tidak berkepanjangan kita jeda dulu. Nanti kita lanjut di “From Sapen To Hubby” Part 2 ya.
 See you...πŸ™πŸ™πŸ™
5 komentar:

Posting Komentar

0 Komentar