The Power of Kepepet : Khasiat Daun Sirsak, Singkong, dan Buah Naga





Berawal sekian bulan yang lalu, ketika Pak Mo – suami Mbak Yem – mengabariku kalau Mbak Yem sakit. Gusi nya berdarah. Waktu itu yang terlintas di pikiran ku, mbak Yem sariawan atau apalah...jenis-jenis penyakit ringan biasa.

O....ya, for your information, mbak Yem itu asisten rumah tangga kami. Beliau ikut keluargaku sudah 19 tahun, sejak anak pertama kami lahir dan sekarang sudah jadi mahasiswa. Mbak Yem wanita desa yang lugu, tidak bisa baca tulis tapi hatinya penuh dengan limpahan kasih sayang dan kesetiaan. Beliau tidak punya anak. Kalau ada orang yang tanya,

“Mbak Yem putranya berapa?”

“Dua.” Begitu selalu jawabannya.

Dua yang dimaksudnya itu ya kedua anak lanangku. Jadi bagi dia kedua anakku itu, ya anak dia juga. Karena sudah bertahun-tahun berinteraksi, tidaklah heran kalau ikatan bathin dan kedekatan emosional antara beliau dan keluarga kami sangat dekat. 

Oke...kembali ke cerita awal.

Jadi ketika suami mbak Yem ngasih info ke keluargaku kalau mbak Yem sakit di RSUD Ambarawa, kami segera bersiap untuk meluncur ke sana. Sesaat sebelum kami bergerak, Pak Mo kembali berbagi info kalau mbak Yem sudah dipindah ke RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Bola pijar di otakku mulai berpendar. Kalau sampai dirujuk ke RSUP berarti penyakitnya serius. Padahal tadinya ku pikir cuma sakit ringan biasa.

Jadi...kami pun cuusss meluncur ke Semarang.

Tiba di rumah sakit...miriiiss banget hatiku melihat kondisi orang yang selama ini dengan telaten dan penuh kasih sayang mengurus ke dua anakku. Wajahnya pucat bagai mayat. Darah terus-menerus keluar dari sela-sela gusi, mengental, dibersihkan, keluar lagi, mengental lagi, dibersihkan lagi...begitu terus berulang kali, hingga menghabiskan berbungkus-bungkus tissue. Selain itu perutnya juga membesar. Memar-memar kebiruan menghiasi kaki, lengan dan beberapa bagian tubuh. Anak bungsuku sampai gak tega melihat “Inang Pengasuhnya” seperti itu. Setelah salaman dengan mbak Yem dia langsung keluar ruangan.

Dari penjelasan tenaga medis yang menangani beliau, kami beroleh informasi kalau trombosit mbak Yem cuma 1000 (normal 150rb sampai 400rb), sementara hb nya hanya 5 koma sekian, dan leukositnya tinggi.

Jadi tindakan yang harus segera dilakukan ya transfusi darah, untuk menaikkan trombosit dan hb.

Hari ketiga opname, transfusi pertama 2 kantong darah merah untuk hb, dan 8 kantong darah kuning untuk trombosit, total 10 kantong.

Dari hasil transfusi pertama ini trombosit meningkat menjadi 17rb, hb naik menjadi 8,3. Dua hari kemudian lanjut trasfusi kedua, 4 kantong darah kuning. Trombosit kembali meningkat menjadi 64rb, dan hb 8,8.

Jadi singkat cerita, tindakan transfusi akan terus dilakukan sampai trombosit dan hb normal. Kemudian dilanjut dengan BMP. Jujur, sebagai orang awam, aku gak paham dengan istilah-istilah kedokderan yang njelimet. Sependek pengetahuanku, BMP itu ya ada hubungannya dengan pengambilan sum-sum tulang belakang. Iiihhhhh.....baru mendengar istilahnya saja aku sudah bergidik, nyeri sekujur tubuh.  

Setelah dua kali transfusi, pendarahan mulai berhenti. Namun datang masalah lain, yaitu biaya. Jadi inang pengasuh anakku ini tidak punya jaminan kesehatan, sehingga semua biaya harus ditanggung secara mandiri. Walau hanya menginap di ruang perawatan kelas 3, tapi bagi kami biaya yang mencapai belasan juta itu begitu berat. Keluargaku dan keluarga mbak Yem bukan golongan berada. Demi mencari uang sejumlah itu kami harus ke sana ke mari, menjual ini itu.  So, akhirnya aku memberanikan diri untuk menarik pasien pulang dengan alasan ketiadaan biaya dan ingin mengurus asuransi kesehatan. 

Alhamdulillah, Pak Dokter yang merawat ART ku cukup baik hati. Beliau mengijinkan kami pulang, dengan catatan harus segera mengurus asuransi, kemudian kembali lagi untuk pemeriksaan lanjutan. Dan jika sewaktu-waktu pasien drop kami harus segera balik ke Rumah Sakit. Padahal sewaktu pertama kali pak dokter visit ke ruang mbak Yem, aku sempat "ilfil" dengan beliau. Lha....gimana gak illfeel, coba bayangin, pak dokter visit cuma sekedar cek stetoskop bentar, setelahnya panjang lebar memberi penjelasan kepada para residen yang beramai-ramai mendampingi visit beliau. Jadi kesan pertama yang kutangkap, saat itu pak dokter lebih memerankan dirinya sebagai dosen dibanding sebagai dokter. Aku sempat suudzon, mungkin karena kami cuma pasien kelas 3, jadinya ya...cuma diperlakukan seadanya saja. But......ternyata dugaanku salah 😁😁, disaat kami terjepit masalah biaya, dan memaksa minta pulang  beliau  meluluskan saja permohonan pulang kami, tidak mempersulitnya.....hehehe...sorry Dok.

Akhirnya dengan kondisi trombosit 64rb, hb 8,8, pasien masih sering demam dan pusing, kami pulang.  Jujur   hatiku ketar ketir. Aku takut, setelah kami pulang kondisi mbak Yem drop. Kalau sampai terjadi keadaan yang demikian, akulah orang yang harus bertanggung jawab, karena selama menginap di Rumah Sakit, aku yang selalu mendampingi mbak Yem, aku yang menandatangani semua berkas setiap akan dilakukan tindakan, dan aku juga yang meminta ijin dokter untuk menarik pasien pulang. Sementara mbak Yem, pikiran beliau simpel saja, sudah boleh pulang berarti sudah sembuh....makjaanggg...πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’

Ndelalah...dalam perjalanan pulang mbak yem pusing, badannya demam. Otomatis aku deg deg seerr juga.  Kucoba menenangkan diri, mengalihkan rasa khawatir   dengan berselancar di dunia maya, mencari info obat-obatan alami yang bisa kami upayakan untuk menjaga kondisi mbak Yem supaya tetap stabil. 

Cari sana sini. Buka ini itu. Baca.....baca.....baca....Akhirnya pilihan jatuh pada daun sirsak, singkong, dan buah naga. Untuk penjelasan ilmiahnya, gak perlulah aku tulis panjang lebar di sini, karena toh para pembaca tulisanku cukup jeli untuk bertanya lebih detail ke mbah Google....😁😁😁







Hari sudah malam waktu kami nyampe di rumah mbak Yem. Setelah berbasa-basi dengan tetangga mbak Yem yang langsung "nyamperin" ke rumah karena melihat kepulangan mbak Yem, berbekal kursus singkat dari mbah Google, kujelaskan apa-apa yang “Do” dan “Don’t” pada Pak Mo, suami mbak Yem. O..ya..selama mbak Yem opname suaminya memang tinggal di rumah, karena kondisi phisiknya juga tidak kuat untuk mengurus istrinya di RS.


Berdasar petunjuk mbah Google, setiap pagi dan sore mbak Yem rutin minum air rebusan daun sirsak, ngemil singkong rebus, dan konsumsi buah naga. Untuk air rebusan daun sirsak, caranya ambil 6 atau 7 lembar daun sirsak, cuci bersih, rebus dengan 2 gelas air, biarkan mendidih dan airnya menyusut hingga 1 gelas, kemudian diminum hangat-hangat. Praktis kan ? Sementara untuk singkong, cukup direbus begitu saja. Pada saat merebus singkong biarkan wadah dalam keadaan terbuka. Singkong bisa dikonsumsi sebagai cemilan atau makanan pokok dengan menambahkan lauk atau sayur. Dan buah naga, bisa dikonsumsi langsung atau dijus.

Mungkin bagi sebagian orang tindakan ku berguru pada mbah Google dianggap suatu hal yang nekad mengingat penyakit mbak Yem cukup serius. Namun aku juga punya alasan kenapa berani mengambil putusan nekad tersebut. Selain karena masalah biaya, juga  karena aku menganggap apa-apa yang dikonsumsi mbak Yem sesuai anjuran mbah Google adalah bahan makanan alami seperti yang lazimnya kita makan sehari-hari. Prinsipku "Nothing to loose". Kalopun ternyata bahan-bahan tersebut tidak membawa manfaat bagi kesembuhan mbak Yem, setidaknya mereka juga tidak akan meracuni mbak Yem. Sesederhana itu saja.

Selain itu, Pak Mo juga kuminta mengawasi mbak Yem untuk menjauhi semua jenis makanan instant, minuman instant, jajanan instant. Juga menghindari makanan yang sudah dihangatkan. Mengurangi konsumsi gula dan memperbanyak minum air putih. Semua informasi itu aku transfer ke Pak Mo, dan beliau wajib menjalani semuanya secara rutin. Kujelaskan juga pada pak Mo, bahwa penyakit yang diderita mbak Yem serius. Jadi kalau saat itu mbak Yem sudah boleh pulang bukan berarti mbak Yem sudah sembuh, tapi karena ada surat-surat yang harus diurus, untuk kemudian masuk lagi ke rumah sakit. Kugunakan bahasa yang sesederhana mungkin, agar beliau paham.

Walau mbak Yem dan pak Mo hanya orang desa yang lugu, seperti kutuliskan di atas, namun mereka memiliki ketelatenan dan sikap setia yang patut diacungi jempol. Semua “Do” dan “Don’t” yang kutransfer dipatuhi dengan seksama.

Setiap dua hari sekali aku mengunjungi mbak Yem, memantau kondisinya. Dari hari ke hari keadaannya semakin segar, walau pusing dan demam bisa datang sewaktu-waktu, dan terkadang darah segar masih menyelinap di sela-sela gusi, tapi secara keseluruhan kondisi mbak Yem cukup bugar.

Hingga tiba saatnya kontrol pertama. Bertemu pak Dokter, dan beliaupun heran melihat kondisi mbak Yem yang segar bugar. Kemudian cek laboratorium. Hasil pemeriksaan laboratorium ini benar-benar membuat kaget, karena semua elemen darah yang tadinya memprihatinkan menjadi normal, bagus. Wowww......Amazing.

Oke, karena kondisi trombosit dan hb sudah normal, BPJS sudah aktif, akhirnya mbak Yem daftar rawat inap lagi untuk pengambilan sum-sum tulang belakang.

Setelah indent kamar, beberapa hari kemudian ada panggilan, kami kembali bermalam di hotel putih, kali ini dengan kartu sakti BPJS. Rencana semula opname kedua ini untuk tindakan BMP. Hari pertama pengambilan sample darah untuk cek laborat, hasil bagus. Dokter akhirnya menunda jadwal BMP. Hari kedua kembali cek paket hematologi, lagi-lagi hasil bagus. Akhirnya dokter mulai bimbang. Beliau putuskan untuk cek laborat ketiga, kalau hasil masih stabil, berarti BMP tidak perlu dilakukan. Alhamdulillah  laborat ketiga hasilnya seperti tes pertama dan kedua, normal semua. Dan...BMP tidak jadi dilakukan. Plong rasanya hatiku. Ntah kenapa, walau bukan aku yang akan "dieksekusi" tapi justru diri ini serasa nyeri, linu bagai disayat sembilu setiap mendengar kata BMP. Sementara mbak Yem....hhmmmmmm....beliau santai saja, karena beliau tidak paham apa yang akan dilakukan pada dirinya...hehehe

Hari kelima kami boleh pulang, dan seminggu ke depan harus kontrol dan cek laborat. O..ya..selama rawat inap otomatis konsumsi air rebusan daun sirsak terhenti, karena situasi dan kondisi. Sementara konsumsi singkong dan buah naga tetap lanjut, soalnya untuk kedua komoditi tersebut banyak dijual di sekitar rumah sakit. 

Seminggu setelah pulang dari rawat inap, kembali menjalani rutinitas kontrol dan cek laborat. Hasil masih seperti sebelumnya, normal dan bagus. Namun karena kondisi mbak Yem masih sering mengeluarkan darah, demam dan pusing, dokter masih terus menganjurkan untuk kontrol secara rutin dua minggu sekali.

Di setiap kunjungan rutin kami, pak dokter selalu menyatakan keheranannya, kog ini penyakit bisa hilang secara tiba-tiba. Dan beliau selalu berujar bahwa apa yang terjadi pada mbak Yem adalah suatu mukjizat yang tidak pernah bisa dinalar otak manusia.

Walau  masih harus rutin kontrol serta cek laborat setiap bulan, tapi kami yakin bahwa mbak Yem insyaa Allah bisa terbebas dari penyakit mengerikan. Di awal perjalanan penyakitnya, kami sudah diberi gambaran bahwa ending dari semua rangkaian tindakan adalah kemoterapi. Duh......bagiku kemo itu mimpi buruk. Tapi syukurlah, kini mimpi buruk itu  tidak akan menjadi nyata. Semogaaa......










Posting Komentar

0 Komentar