Interpretasi Lagu “Always” Bon Jovi : Mengemis Cinta dalam Balutan Diksi Romantis


Sumber photo : Google




Penyesalan memang selalu datang belakangan. Hal ini dikisahkan oleh tokoh “Aku” dalam lagu Always yang dinyanyikan oleh Bon Jovi. Always adalah satu dari dua lagu baru dalam album Greatest Hits yang berjudul Cross Road. Album Cross Road sendiri dirilis pada bulan Oktober 1994. Walau sudah terhitung lawas, namun popularitas lagu Always dan sang penyanyi –Bon Jovi- masih melegenda hingga abad milenium ini.

Dalam lagu Always, tokoh “Aku” menyampaikan penyesalan yang begitu mendalam tentang perpisahannya dengan sang pujaan hati. Apalagi perpisahan itu terjadi karena kesalahan “Aku” sendiri, sehingga pasangannya pergi meninggalkannya.

Penulis  mengisahkan hal tersebut dalam paparan kata-kata yang indah dan menyentuh. Sehingga walaupun thema lagu ini sangat biasa, namun pemilihan diksi yang begitu puitis dan berirama membuat penikmat lagu terbuai dengan nuansa romantisnya.

Yang lebih mengesankan, kisah dalam lagu ini disampaikan dalam dua sudut pandang, yaitu sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat, dan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku.

Penyesalan yang dirasakan tokoh “Aku” dimulai dengan prolog yang disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga.

This Romeo is bleeding
But you can’t see his blood
It’s nothing but some feelings
That this old dog kicked up

Di prolog ini tokoh utama si lelaki di gambarkan sebagai Romeo yang sedang terluka, namun sang pujaan hati yang telah meninggalkannya tak mampu melihat luka yang sedang dirasakan Romeo. Dengan kondisi seperti itu, Romeo merasakan bahwa dirinya tak lebih bagai anjing tua yang tercampakkan.

Sementara dalam bait-bait berikutnya Penulis mulai menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku. Tokoh “Aku” berusaha menyampaikan ketakberdayaannya ketika harus ditinggal sendiri oleh pujaan hati. Hal ini bisa kita lihat dari kalimat,

It’s been raining since you left me
Now I’m drowning in the flood
You see I’ve always been a fighter
But without you I give up

Di sini tokoh “Aku” mengungkapkan, bahwa sejak kepergian kekasihnya, kemuraman (raining) selalu menghampirinya, bahkan tokoh aku seolah-olah tak punya kemampuan apa-apa lagi (drowning in the flood). “Aku” yang sejatinya adalah seorang petarung, menjadi bukan  siapa-siapa lagi.

Pada bait-bait berikutnya, ungkapan-ungkapan penyesalan terus bergulir. Menyesal karena ternyata setelah mereka berpisah, barulah tokoh “Aku” menyadari betapa dirinya telah terperangkap dalam kubangan cinta sang pujaan hati.

And I will love you, baby, always
And I’ll be there forever and a day, always
I’ll be there till the stars don’t shine
Till the heaven burst and
The words don’t rhyme
And I know when I die, you’ll be on my mind
And I’ll love you, always

Dalam terjemahan bebas, bisa kita artikan bahwa “Aku” akan selalu mencintai kekasihnya, SELALU. Bahkan sampai bintang tak lagi bersinar, langit runtuh,  kata-kata tak lagi berirama, hingga ketika ajal menjemputpun, kekasihnya selalu ada dalam angannya.

Setelah mengungkapkan penyesalan yang begitu mendalam, tokoh “Aku” juga membuat pengakuan bersalah yang diungkapkan secara jujur dan jantan bahwa “Aku” telah membuat kesalahan, karena “Aku” hanyalah manusia biasa.
(I’ve made mistake, I’m just a man.)

Selain mengungkapkan penyesalan dan pengakuan bersalah, tokoh “Aku” juga mengungkapkan rasa cemburu yang membara ketika dia menyadari sang pujaan hati sudah melabuhkan hatinya untuk lelaki lain,

When He holds you close, when He pulls you near
When he says the words you’ve been needing to hear
I wish I was him ‘cause those words are mine
To say to you till the end of time

Tokoh “Aku” tidak rela ketika “Dia” mendekapmu erat, memelukmu lekat. Dan ketika “Dia” mengucapkan kata-kata yang menyenangkanmu, “Aku” berharap bisa menjadi “Dia” karena seharusnya “Aku” lah yang mengucapkan kata-kata itu.

Di bait-bait akhir bahkan tokoh aku menunjukkan kesiapannya untuk berkorban apapun, asalkan sang pujaan hati bersedia kembali pada “Aku”.

If you told me to cry for you
I could
If you told me to die for you
I would
Take a look at my face
There’s no price I won’t pay

Jika sang pujaan hati meminta “Aku” menangis untuknya, “Aku” bersedia. Jika sang pujaan hati meminta “Aku” mati untuknya, “Aku” siap melakukan. “Aku” meminta sang pujaan hati menatap wajahnya, demi melihat suatu kesungguhan bahwa “Aku” akan melakukan semuanya.

Walau terpuruk dalam penyesalan yang begitu mendalam, tokoh “Aku” menyadari bahwa ini adalah kenyataan yang harus “Aku” alami dan jalani. 

Well, there ain’t no luck
In these loaded dice
But baby if you give me just one more try
We can pack up our old dreams
And our old lives
We’ll find a place where the sun still shines

Namun demikian, tokoh “Aku” masih berharap keberuntungan menghampirinya, walau “Aku” tidak terlalu yakin dengan keberuntungan tersebut, (there ain’t no luck in these loaded dice). Dan “Aku” sangat berharap sang pujaan hati memberi satu kesempatan agar mereka bisa menata ulang mimpi-mimpi dan kehidupan yang telah berlalu. Karena “Aku” berencana membawa sang pujaan hati menuju bahtera kehidupan yang lebih indah.











Posting Komentar

0 Komentar