Goodbye Kopitnaintin, Welcome 2021



Tanggal 1 Desember kemarin aku sempat rawat inap karena satu penyakit.
Sebelum rawat inap, menjalani rapid test dan rongent thorax dulu.  Alhamdulillah rapid test nonreaktif. Sementara thorax bersih.

Nah...justru setelah pulang opname, di rumah aku  mulai merasa lemaasss banget. Lelah yang teramat sangat. Tenggorokan sakit, diare dan mulai batuk.
Besoknya,  demam menggigil, badan sakit semua, mual, pusing, napas pendek, dada sesak. Yang jelas diriku ambruk, terkapar di tempat tidur dan gak bisa beraktivitas.

Waktu itu belum sadar kalo udah kehilangan penciuman.
Sadarnya itu setiap kali si baby pup, aku gak mencium aroma apapun. Gitu juga kalo  pas balur minyak telon ke tubuh si baby, gak tercium aroma sama sekali. O...ya, walaupun terkapar, tapi untuk mandi dan pup si baby, aku terpaksa turun tangan. Padahal sebenernya untuk wudhu aja, badan auto merinding saking kedinginan. 

Sama sekali gak terpikir kalo apa yang kurasakan ini merupakan gejala covid. Aku sih mikirnya kalo gak types ya DB. 

Baru mulai ngeh saat seorang temen zaman putih biru japri. Tanya kondisi dan apa-apa yang aku rasakan. Kuceritakan semua. Dia yakin kalo aku dah ketempelan virus yang sedang nge-hits itu. Sementara aku sendiri gak terlalu yakin, soalnya belum swab. Namun pendapat temen ini bikin  kepikiran.

Akhirnya aku  sharing ke seorang temen yang kebetulan nakes dan pernah positive covid. Setelah mendengar paparanku,
Beliau menyarankan untuk swab-PCR. Segera dan  jangan tunda. 

Okelah...diriku akhirnya swab mandiri di satu laboratorium kesehatan, dan 24 jam kemudian, hasil keluar. Fix positif.

Perasaanku setelah tau hasilnya? Insyaa Allah biasa saja. Bukan bermaksud sombong atau takabur. Tapi memang pada saat itu, aku gak stress dan gak melow.  Sadar bahwa diri ini akhirnya dapat giliran didatangi virus kondang. Tapi yakin bahwa insyaa Allah, bisa sembuh.

Setelah aku positif, otomatis Pak Bro, anak Lanang gede, dan si Mbul harus Test PCR juga dong. Tapi Alhamdulillah hasilnya negatif semua. Dan Mbul pun segera diungsikan, soalnya  kalo di rumah, dia maunya ke kamar emak terus. 

Walau positif bergejala, tapi aku memilih istirahat di rumah. Trauma untuk kembali ke hotel putih, soalnya diri ini terpapar justru setelah pulang menginap di sana.

Tiap pagi setelah subuhan, ikhtiar terapi uap dengan sauna ala-ala. Air mendidih dimasukin ember, beri beberapa tetes minyak kayu putih, dan aku kerukupan di atasnya.  
Setiap minum selalu air hangat yang dikucuri jeruk nipis dan madu. Rutin konsumsi vitamin C. Sore setelah sholat ashar sauna lagi. Dan selanjutnya, setiap sesak, aku selalu sauna. Sehari bisa sampe 4 atau 5 kali. Kalo dah sauna, dada rasanya plooong banget. Menggigil juga hilang, karena banyak mengeluarkan keringat. Walaupun setelah itu bakal balik lagi.

Dari semua gejala yang timbul, yang kurasa sangat mengganggu itu ada empat.

Pertama demam, menggigil, badan nyeri. Ini bener-bener bikin gak nyaman, apalagi untuk aktivitas yang menyentuh air seperti wudhu, thaharah, sikat gigi. 

Terus mual dan lidah mati rasa. Kata 'para ahli' kan untuk menghalau virus ini harus jaga daya tahan tubuh. Caranya ?? Makan yang banyak. Nah...gimana mo makan banyak, kalo lihat makanan aja langsung mual. Apalagi setelah dipaksa masuk mulut, rasanya seperti ampas semua. Nyerah...angkat tangan tinggi-tinggi. Makanan yang bisa masuk tuh cuma buah.
Jadilah setiap hari konsumsiku cuma pisang, buah naga, dan apel.

Yang ketiga, sesak dan batuk. Nah...sesak ini memang sangat-sangat mengganggu banget. Makanya setiap ada teman atau keluarga yang nelphone, aku gak pernah angkat. Alasannya ya itu, batuk dan sesak, bikin enggan bicara.

Yang terakhir tu rindu. Lho...memang virus ini bergejala rindu jugakah?
Rindu sama Mbul. Virus covid gak bikin diri ini melow, tapi menahan rindu sama anak wedok? Hhhmmmm...jangan ditanya. Ntah kenapa kali ini diriku sependapat dengan Dilan, bahwa rindu itu berat.

Tapi semua gejala tak mengenakkan itu, alhamdulillah tertutupi dengan curahan do'a, perhatian, support, dan  semangat  dari banyak orang. Kakak-kakak juga para ponakan dari Keluarga Cemara. Begitu juga dengan tetangga satu RT. Pun teman-teman dari masa putih biru dan putih abu-abu. Bahkan para teman dunia maya yang sama sekali belum pernah bertatap wajah. 

Setiap hari puluhan chat menghiasi gawai. Bahkan ada yang sehari nge-chat-nya melebihi dosis minum obat. Lima kali sehari, dah seperti sholat fardhu aja.😊

Bukan cuma support moril, support materiil juga datang silih berganti. Tiap hari lonceng sapi di pintu depan berbunyi berulang kali. Kurir ekspedisi,  tetangga, atau temen-temen datang silih berganti. Dari mulai sembako, belanjaan berupa sayur, ikan, ayam, bumbu dapur, sampe beraneka madu, suplemen, vitamin,  obat-obatan baik yang medis maupun yang herbal, bahkan fingertip Pulse oximeter, mendarat manis di teras rumah.

Sebelum lanjut, aku pengen ngucapin makasih dulu nih untuk semua dukungan moril dan materiil. Buat Kakak Abang, Adik, Ponakan,  dari Keluarga Cemara, Warga RT 01 Macanan dengan Jogo Tonggo-nya, STM Muslim Angkatan 86 SMPN 9 Medan, Temen-temen Kelas 3-8, KB 89 Sindoro, temen komunitas,  para teman dumay dan pembaca garis keras dari berbagai kota. (Sragen, Kertosono, Bali, Denpasar,, Jakarta, Bandung, dll). Ibu-ibu ME CCAI, juga temen-temen Pak Bro dari CCAI Semarang. Pokoknya makasih banget buat semuanya.

Oke...lanjut lagi ya. Semua support itu bikin aku bener-bener terharu dan menjadi pemicu semangat untuk cepat sembuh. 
Pernah sih sekali waktu saat sesak melanda, datang rasa takut. Kalo aku mati, siapa yang ngurus si Mbul.
Tapi pikiran itu biasanya cepat-cepat kubuang, karena pikiran negative sangat berpengaruh terhadap kekebalan tubuh.
OOO...ya, satu yang paling penting (khusus untuk yang muslim), jangan putus beristighfar dan baca alfatiha, karena keduanya juga merupakan obat yang sangat mujarab.

Emosiku sempat teruji, saat swab-PCR ulang di tanggal 22 Desember kemarin. Diri ini  yakin banget kalo tanggal 23 Desember, anak wedok sudah bisa dijemput. Seharian rasa gembira menyeruak. Menunggu jarum jam menunjuk ke angka 4 sore -saat hasil PCR online bisa diakses- rasanya seperti menunggu jodoh (lebay). Bahkan anak Lanang gede  sepertinya juga udah gak sabar mau jemput adek.
Dan...perasaan bahagia itu menyurut saat hasil yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Di situ kadang saya merasa sedih. Dan emak memang beneran nangis. Bukan karena masih positif, tapi karena gagal jemput Anggi.

Dan...Thank you, Allah. Akhirnya di hari terakhir 2020 ini diriku resmi berpisah dengan kopidnaintin. Walau gejala batuk dan sesak masih menetap,  tapi secara menyeluruh aku baik-baik saja, sehat walafiat.

Bukan bermaksud menggurui, cuma sekedar berbagi motivasi. Saat covid menghampiri, yakinlah bahwa Allah itu sesuai prasangka hambaNya, jadi tetap  semangat dan selalu bahagia tanpa tapi.

Covid itu nyata, dan sembuh itu fakta.

Salatiga, Hari terakhir di 2020.

Posting Komentar

0 Komentar