Ke Papringan Kita 'kan Kembali



_Yen ing tawang ana lintang, Cah Ayu. [Jika dilangit ada bintang, Cah Ayu.]_
_Aku ngenteni tekamu [Aku menanti hadirmu.]_
_Marang mega ing angkasa [Kepada awan di langit.]_
_Ingsun takokke pawartamu. [Aku menanyakan kabarmu.]_
_Janji-janji aku eling, Cah Ayu [Semua janji aku ingat.]_
_Sumedhot rasane ati [Terputus rasanya hati.]_
_Lintang-lintang ngiwi-iwi, Nimas. [Bintang-bintang mengoda aku, Nimas.]_
_Tresnaku sundhul wiyati. [Cintaku tak berbatas, setinggi langit.]_

_Dhek semana janjiku disekseni mega kartika. [Semenjak itu janjiku disaksikan awan bintang.]_
_Kairing rasa tresna asih [Teriring rasa cinta kasih.]_

_Yen ing tawang ana lintang, Cah Ayu. [Jika dilangit ada bintang, Cah Ayu]_
_Rungokna tangising ati [Dengarkan rasa terdalam hatiku.]_
_Binarung swarane ratri, Nimas [Resapi suara diwaktu malam hari.]_
_Ngenteni mbulan ndadari. [Menunggu bulan purnama.]_

Beberapa waktu belakangan, aku sering melihat papa  duduk merenung di teras samping sembari mendengarkan lagu romantis itu dari gawai. Lagu berbahasa Jawa, yang dinyanyikan seorang biduanita senior bersuara khas.

Awalnya, aku tidak terlalu hapal  lirik lagu tersebut, namun sangat bisa merasakan  melodinya yang begitu menyayat hati. Dan semakin membuat perih kala aku melihat papa menikmati setiap untaian kalimat dalam lagu tersebut dengan ekspresi rindu yang mendalam.

Kondisi ini membuat jiwa kepo-ku meronta. Kucoba berselancar di jagat semu demi mendapatkan lirik komplit dan makna lagu yang tiba-tiba mampu membuat papa terhipnotis tersebut.

Malam ini, seperti malam-malam kemarin. Setelah pulang dinas, kemudian bebersih diri dan sholat Isya, papa asyik dengan kesendiriannya. Duduk di kursi teras menghadap ke kolam koi, ditemani lagu melow itu. Sementara aku mengamati penuh tanya dari balik gorden ruang keluarga.

Usiaku memang masih ABG dan belum memenuhi syarat untuk mendapatkan KTP. Tapi kedekatan emosional antara aku, adikku, dan papa sangat rekat. Sejak mama kembali ke haribaan Sang Khalik ketika aku baru menikmati status sebagai siswi kelas satu sekolah dasar, papa memposisikan dirinya sebagai ayah juga ibu. Dan itu menjadikan bounding di antara kami bertiga  begitu kuat. 

Saat adik yang usianya terpaut lima belas bulan dariku sedang dirundung masalah, papa dan aku menjadi supporter utama yang menguatkannya. Begitu juga ketika  aku mengalami masa-masa sulit, papa dan adik menjadi penyemangatku. Dan itulah mengapa aku sangat terusik melihat ke-diam-an papa beberapa waktu belakangan ini. Aku seolah bisa merasakan kalo papa sedang memendam rindu yang membiru. Kepada mama, kah? Atau...calon pengganti mama?

Memoriku berputar pada kejadian seminggu yang lalu. Saat sedang menikmati kebersamaan dengan beberapa teman di sebuah cafe bernuansa rumah baca di area wisata kota. Aku melihat kendaraan  papa terparkir di resto klasik yang berada persis di depan cafe. Selanjutnya terlihat papa turun dari mobil, berjalan ke arah kiri, membukakan pintunya. Seorang wanita seusia papa turun melalui pintu yang tadi dibuka papa.

Papa terlihat begitu melindungi wanita itu. Berjalan berdampingan sembari menggandeng tangannya menuju ke arah resto.

Kuabaikan adegan yang t'lah berlalu tersebut. Kembali kufokuskan diri kepada papa terbaik di dunia ini. 

"Papa...." Sembari duduk di samping sang lelaki idola, kusapa beliau dengan lembut.

Ternyata kehadiranku tak mampu mengalihkan kekhusyukannya menikmati lagu yang telah terputar beberapa kali itu. Beliau tidak mendengar sapaan gadisnya.

Perlahan kuraih lengan kekar yang telah lelah berjihad demi memenuhi kebutuhanku dan adik. Mungkin karena merasa ada sesuatu yang menyentuh anggota tubuhnya, sedikit terkejut, papa menoleh.

"Kok Mbak belum tidur?" Papa selalu memanggilku dengan sapaan sayang "Mbak".
"Kok Papa sekarang sering melamun?" Alih-alih menjawab pertanyaan beliau, aku justru dengan spontan mengungkapkan rasa ingin tahu yang tak lagi mampu terbendung.

Lelaki yang tahun ini genap berusia setengah abad itu tertawa kecil mendengar pertanyaan gadis ABG-nya.

"Yang melamun itu siapa?" Jawaban santai  berwujud pertanyaan meluncur dari mulut papa.

"Seharian capek dinas, menghadapi pasien dengan tingkah laku yang beragam, wajarlah kalo malam-malam gini Papa nyantai sambil lihatin ikan-ikan berenang di kolam," lanjut beliau.

"Lagunya kok itu-itu terus sih, Pa?" Walau papa kembali tertawa mendengar tanyaku, tapi aku bisa melihat ada nestapa di balik tawa renyahnya itu.

[Yen ing tawang Ono lintang, Cah Ayu.
Aku ngenteni tekamu.]

Persis saat sang biduanita mengalunkan lirik tersebut, aku pun kembali meluncurkan seuntai tanya untuk papa.

"Papa nunggu siapa?" ujarku lirih.

Mungkin karena aku bisa merasakan kesepian yang menghinggapi papa, nada suaraku terdengar bergetar.

Papa meraih gawai yang terletak di atas meja, mengutak-atiknya sejenak. Lagu melankolis yang menyayat hati itu seketika tak terdengar lagi. Papa menghentikan perputarannya.

Papa menatapku lekat, penuh kasih, tapi ada gores sedih di tatapannya. Aku tak tega melihatnya. Papa seolah menyimpan sesuatu yang membebani hati dan pikirannya.

"Minggu lalu, aku lihat Papa di Resto Bambu Seribu." Tak mampu menyimpan rahasia yang terus memenuhi rongga dada, akhirnya kulepaskan semuanya, seketika.

Kembali...sedikit terkejut, namun seolah  mencoba bersikap natural, papa merespon ucapanku.

"O...ya?"
"Iya."
"Mbak kok gak manggil Papa?"
"Aku lagi bareng temen-temen."

Hening...aku tak berani mengarahkan pandang ke papa. 

"Itu Tante Ina." Tanpa kuminta, seolah papa sadar bahwa beliau harus memberi penjelasan siapa wanita yang bersamanya kala itu. Walau sebenarnya hal itu tak perlu papa lakukan, karena aku masih mengingat dengan baik wajah wanita tersebut.

Tante Ina pernah dekat dengan papa ketika aku masih duduk di kelas enam sekolah dasar hingga ke jenjang sekolah menengah pertama. Aku bahkan masih bisa mengingat dengan baik saat kami pertama sekali bertemu.

####

"Besok selesai sholat Subuh, langsung berkemas ya. Papa mau ajak Mbak sama Adek ke luar kota," titah papa saat kami sedang berjalan kaki  pulang dari mesjid seusai menunaikan Isya berjamaah.

Dan keesokan harinya pagi-pagi sekali kami bertiga sudah melaju di atas roda. Biasanya, aku atau adik selalu bergantian duduk mendampingi papa saat beliau sedang menyetir. Tapi kali ini, sebelum berangkat papa meminta kami berdua untuk duduk di jok tengah, karena dalam perjalanan nanti kami akan menjemput teman papa.

Seorang wanita seusia papa, dengan penampilan sederhana tapi cukup menarik dipandang mata, membersamai perjalanan kami saat itu. Papa mengenalkan beliau kepada kami sebagai Tante Ina.

"Ini Tante Ina. Ayo Mbak dan Adek salim sama Tante." Demikian kalimat yang papa ucapkan saat pertama kali pertemuan itu terjadi.

Setelah menjemput Tante Ina, perjalanan kembali berlanjut. Papa membawa kami ke satu Pasar Wisata di daerah Temanggung,  Pasar Papringan. Disebut Pasar Papringan (berasal dari kata Pring yang bermakna bambu), karena pasar unik ini memang berlokasi di bawah rimbunnya rumpun bambu. 

Perjalanan menuju lokasi melintasi areal pertanian yang indah memukau. Kebun dan sawah penduduk yang sedang ditumbuhi aneka palawija dan padi, terhampar luas di sisi kiri dan kanan jalan. Panorama ini menjadi semakin elok dengan kolaborasi gunung kembar Sindoro Sumbing sebagai latar belakang. Sungguh lukisan alam yang begitu memesona. 

Saat pagi masih terlalu muda, kami sudah tiba di Desa Ngadiprono, tempat di mana Pasar Papringan berlokasi. Sepertinya pasar wisata ini cukup populer. Hal ini terlihat dari banyaknya kendaraan yang memenuhi areal parkir. Sebagian besar kendaraan tersebut ber-plat nomor luar kota.

Keunikan pasar ini sudah terjejak  dari pintu masuk. Kita harus menukar uang rupiah dengan keping bambu sebagai alat tukar saat bertransaksi di dalam pasar. Bagi pecinta kuliner, Pasar Papringan layaknya surga dunia. Aneka kuliner tradisional ada di sini. Disajikan dengan piranti alami seperti piring lidi, pincuk daun, dan cangkir bambu. Pun kebersihannya  cukup terjamin.

Setengah hari di pasar ini berlalu dengan sangat indah. Aku dan adik menikmati beragam kuliner dan permainan tradisional yang tak pernah kami temui sebelumnya, tapi ada di sini. Sementara Papa juga terlihat sangat sumringah dan ceria, dengan Tante Ina yang selalu berada di sisinya. Sekali waktu, aku menangkap adegan papa menggandeng tangan Tante Ina. Hatiku berdesir, namun aku tak mampu memberi makna akan desiran tersebut.

Saat aku dan adik asyik mengeksplore pasar ke sana ke mari, papa setia mendampingi Tante Ina mengabadikan banyak hal di pasar tersebut dengan kameranya.
Belakangan baru kuketahui, ternyata tujuan utama papa membawa kami ke sini untuk menemani Tante Ina mencari bahan tulisan tentang pasar wisata ini. Tante Ina suka menulis, khususnya yang berkaitan dengan wisata, kuliner, dan heritage. Tulisannya sering dimuat di media cetak atau elektronik.

Kelihatannya daya pikat dan pesona yang  ditebarkan Pasar Papringan kepada papa dan Tante Ina begitu kuat. Hingga tak heran kalau keberadaannya seolah bagai magnit bagi  kedua orang dewasa tersebut, yang menarik mereka untuk selalu kembali. 

Setelah kunjungan pertama itu, Pasar Papringan menjadi tujuan rutin kami saat mengisi libur di Minggu Wage atau Minggu Pon. Dan Tante Ina selalu hadir sebagai pelengkap personil keluarga kami. 

Hubungan kami semakin  akrab. Sementara di sisi lain, aku melihat papa menjalani hari-harinya dengan sangat bahagia. Hingga pada puncaknya,  ketika aku sudah duduk di kelas dua sekolah menengah pertama, papa menyampaikan dengan bahasa yang sederhana bahwa Papa dan Tante Ina akan memilih  Pasar Papringan sebagai lokasi pernikahan mereka nantinya.

Saat itu pikiranku masih sangat simpel. Aku senang karena akan memiliki mama pengganti. Baru kusadari, mungkin inilah makna desiran yang kurasakan saat melihat papa menggandeng tangan Tante Ina dulu...bahagia.

Detik berdetak, jam berjalan, hari berlari. Hingga di satu episode waktu, Tante Ina tidak pernah hadir lagi dalam kehidupan keluarga kami. Dan pasar eksotis nan unik yang berada di bawah naungan rimbunnya rumpun bambu itu pun seolah terlupakan oleh papa. Beliau tak pernah lagi mengajak kedua gadis ABG-nya ke sana.

#####

Dan kini...setelah berpuluh purnama, wanita baik hati itu kembali lagi. Tapi kenapa hadirnya kini justru membuat papa lebih banyak menyendiri? Tak lagi menularkan kebahagiaan seperti dulu?

"Papa nunggu Tante Ina? Seperti yang di dalam lagu itu?"

Ntahlah...mungkin papa tak menyangka, kalau gadis kecilnya telah beranjak remaja, dengan pola pikir yang sedikit dewasa.

Selama ini, aku belum pernah melihat papa begitu kesepian seperti saat ini. Keberadaan ku dan adik -selain Tante Ina- seolah bagai doping penambah semangat buat papa. Juga bagai vitamin yang selalu membuat papa bugar.

Aku paham, sebagai single parent yang mapan dan penuh pesona, papa diminati beberapa perempuan. Hal ini kuketahui ketika  kami  ikut family gathering atau acara-acara lainnya dari rumah sakit tempat papa berdinas, dan tanpa sengaja mendengar guyonan serta celetukan teman-teman papa. Tapi sepertinya papa tak ambil pusing dengan para peminatnya.

Namun kali ini beda. Dengan Tante Ina kelihatannya justru papa yang dibuat pusing.

"Mbak masih anak-anak. Belum saatnya ngerti hal beginian."

"Tahun depan aku dapet KTP, Pa." Ujaranku terdengar memelas, berharap papa memahami bahwa aku sudah cukup dewasa untuk dijadikan teman berbagi. "Papa nunggu, Tante Ina?" lanjutku sambil mengulang tanya yang tadi telah terucap.

Sejenak, dua jenak, tiga jenak, hening tanpa kata. Hingga akhirnya...

"Papa menunggu waktu untuk kembali ke Papringan." Jawaban mengambang yang aku tak begitu paham maknanya.

Yen ing tawang Ono lintang, cah ayu.
Aku ngenteni tekamu.
Marang Mega ing angkasa
Ingsun takokke pawartamu.
Janji-janji aku eling, cah ayu.
Sumedhot rasane ati.
Lintang-lintang, ngiwi-iwi, nimas.
Tresnaku sundhul wiyati.

Salatiga, 20 Juni 2020.

Note : Cerpen ini pernah dimuat dalam Antologi Mentari Terbelah Puncak Sindoro, yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah.

Posting Komentar

0 Komentar