Rahasia yang Harus Diungkap



Facebook memunculkan satu kenangan di berandaku.

*Sebuah nama indah sudah kupersiapkan untuk menyambut kehadiranmu, "Pelangi Kehidupan"*

Rangkaian kalimat di atas adalah status Facebook yang pernah kutulis pada tanggal 17 Januari 2019. 

Status  tersebut sebenarnya berkaitan dengan cerita bersambung -sekarang  sudah menjadi novel- yang sedang kugarap di salah satu grup literasi. Tokoh utama wanita di cerbung itu sedang menanti  kelahiran anak keempatnya. Jadi status itu seolah-olah merupakan ucapan dari sang tokoh wanita.

###RP###

 [Bunda, mau  anak perempuan?] Tiada angin tiada hujan, seuntai pesan dari Bidan Zakia  menghiasi gawai.

Bu Zakia adalah seorang bidan desa yang berdinas di lereng Gunung Ungaran. Pertemananku dan Bu Bidan terjalin karena suami kami bekerja dalam satu instansi yang sama.

Dan ketika di Rabu pagi  23 Januari 2019 itu, Bu Bidan mengirim pesan dalam bentuk pertanyaan di atas, dadaku bergetar. Jauh di lubuk hati terdalam, aku memang menyimpan satu keinginan terpendam yang tak pernah terungkap, memiliki anak perempuan. 

Keinginan itu semakin membuncah saat aku terpikat oleh sosok Mentari. Aku jatuh hati padanya, tokoh gadis kecil dalam novelku Romansa Puber Kedua. Saat pertama kami bertemu, usianya masih sebelas tahun.

Pesan dari Bidan Zakia tak segera berbalas.  Memoriku seolah berusaha mencerna dan menyesap pertanyaan  tak biasa itu.

[Mau banget, Mbak.] Setelah tergugah dari limbung sesaat, tanpa pikir panjang aku  menangkap tawaran menggiurkan tersebut. 

[Sekarang Adeknya ada di mana, Mbak?] Pesan susulan kembali kukirim.

[ Tapi belum lahir, Bun. Masih harus menunggu sebulan lagi, karena ini kehamilannya masih delapan bulan.]

[ Mau banget, Mbak. Gak papa nunggu sebulan lagi, yang penting perempuan ya. Kalau cowok, aku gak mau lho.]

[ Ya, Bunda. Ni hasil USG nya perempuan kok, Bun.]

Saat hendak membalas pesan Bidan Zakia, panggilan suara menggetarkan gawaiku. 

"Assalamualaikum, Mbak," sapaku pada Bidan Zakia.

Detik selanjutnya, dua ibu beda usia inipun tenggelam dalam perbincangan seputar sang jabang bayi.

Mengalir kisah dari lisan Bidan Zakia kenapa keluarga calon bayi tak hendak merawatnya.

Adalah seorang gadis kecil berusia empat belas tahun yang menjadi calon ibu sang bayi. Remaja malang itu hamil akibat pelecehan seksual yang dilakukan oleh tetangganya. Lelaki dewasa yang telah memiliki anak istri.

Refleks bathinku berteriak, "Bajingan."

Bagiku, lelaki laknat tersebut tak layak menyandang status sebagai manusia.

Bidan Zakia bertutur bahwa keluarga si gadis kecil nan malang itu lebih memilih menutup aib dari pada menempuh jalur hukum demi mencari keadilan.

Dengan kondisi ekonomi di bawah garis kemiskinan, tak pernah mengenyam pendidikan, dan hidup terpencil di kaki gunung, membuat mereka pesimis dengan segala sesuatu yang berbau hukum.

Pasangan suami istri lugu tersebut terus membujuk Bidan Zakia untuk mencarikan orang yang berkenan mengasuh calon cucu mereka.

Sebenarnya ada dua pasang suami istri yang berminat terhadap calon jabang bayi. Namun pada akhirnya, pasangan pertama mundur setelah mengetahui kisah ibu si bayi.

Sementara pasangan kedua tetap legowo dan antusias ingin menimang bayi yang masih terlelap hangat dalam rahim bundanya tersebut.

Namun Bidan Zakia lah yang tak rela menyerahkannya mengingat ada perbedaan prinsip antara calon keluarga angkat dan bayi. Beliau tidak ingin ikut menanggung dosa dengan memindahkan aqidah si calon bayi.

Itulah kenapa akhirnya beliau menghubungi dan memberiku tawaran besar ini. Naluri keibuanku tergerak. Sungguh diri ini tak perduli dengan asal-usul sang bayi, tapi justru rasa iba begitu mendominasi  terhadap bayi yang tak diharapkan tersebut. Itulah mengapa aku menyanggupi untuk mengadopsinya.

###RP###

Embun pagi masih menempel di rerumputan. Udara begitu segar, matahari bersinar cerah. Aku baru saja selesai inspeksi halaman, menyapa beberapa tetumbuhan yang sedang memunculkan bakal buah. Saat kaki melangkah masuk ke rumah, handphone yang terletak di atas meja tivi berdering. Panggilan dari Bidan Zakia.

"Assalamualaikum, Mbak," sapaku pada bidan baik hati tersebut.

"Waalaikumussalam, Bunda. Bun, dedeknya udah lahir tadi malam. Cewek, Bun." Dengan antusias ibu dua anak tersebut menyampaikan kabar mengagetkan namun berbalut kegembiraan.

Jujur...saat itu perasaanku campur aduk. Senang, bingung, ragu.

Aku senang karena keinginan memiliki anak perempuan segera terwujud. Namun tetiba terjadi pergolakan bathin yang memunculkan bibit keraguan mengingat  selama ini aku giat beraktivitas di luar rumah, sehingga ada kekhawatiran si bayi bakal membatasi ruang gerak dan aktivitasku.

Sementara kebingungan juga melanda hati. Kabar ini terlalu mendadak, aku belum bersiap diri. Tadinya kukira masih ada waktu satu bulan untuk mempersiapkan segalanya, termasuk berkisah kepada suami. Tapi belum sempat  bergerak, bayi tak berdosa itu keburu lahir ke dunia. 

Dan satu hal lagi, mengingat usia yang tak lagi muda, apakah aku mampu membersamai bayi mungil itu hingga  dewasa. Namun di sisi lain diri ini sudah mengikrarkan janji untuk mengadopsinya.

"Lho...kemarin kata Mbak masih sebulan lagi lahirannya?" Kurespon informasi yang disampaikan Bidan Zakia dengan seuntai tanya. 

"Iya, Bun. Tapi ternyata tadi malam jam sepuluh udah lahir. Saya udah ngomong sama keluarga bayi kalo ada yang bersedia mengadopsi. Jadi sekarang ini  keluarga bayi nunggu Bunda di rumah sakit."

Tak ingin ingkar janji dan menjadi manusia munafik, sekitar pukul 10.00, ditemani anak lanang gede, kami meluncur ke rumah sakit. 

Sepanjang perjalanan labirin otakku terus bekerja memikirkan segala hal. Bertanya pada diri sendiri, sudah tepatkah keputusan yang kuambil ini. Bahkan sempat terbersit satu niat, kalo nanti aku tak memiliki chemistry terhadap sang bayi, ada baiknya aku bicara terus terang kepada keluarganya bahwa ternyata aku belum cocok dengan bayi mereka.

Aku dan anak Lanang tiba di rumah sakit tiga puluh menit kemudian. Jam besuk belum dibuka. Kami masih harus menunggu setengah jam ke depan. 

Pergulatan bathin masih terus berkecamuk. Berbagai rasa memenuhi rongga hati. Penasaran, deg-degan, dan ragu yang terus menggelayut.

Jam sebelas tepat kami masuk ke ruang perawatan kelas III. Perawat mengantar kami ke bilik pasien yang dituju.

Saat pandang mata melihat langsung wujud si bayi, aku meleleh.... Hatiku teriris perih, mata mengabur terlapisi kristal bening. Bahkan saat itu, diriku belum saling sapa dengan ibu, serta kakek nenek si dedek.

Ntah lah...ada haru, sedih, bahagia, dan keyakinan yang tiba-tiba muncul di sudut sanubari. Haru dan sedih melihat bayi cantik nan sehat namun tak diharapkan oleh orang tuanya. Bahkan ketika usianya masih tiga belas jam, dia harus terpisah dari trah-nya. Ada sedikit penyesalan tentang keraguan yang sempat hinggap. Kuyakinkan pada diri bahwa aku siap dan mampu menjadi ibu lahir dan bathin buat si dedek.

Aku...jatuh cinta padanya sejak pandang pertama.

###RP###

Diiringi gerimis tipis, dalam kendaraan yang sedang melaju, bayi cantik nan menggemaskan itu kudekap dalam pelukan, membawanya menuju  kehangatan keluarga baru.

Satu hal absurd, bahkan suami belum mengetahui sama sekali tentang keputusanku ini.

Sejak Bidan Zakia memberi penawaran, hingga bayi mungil itu kubawa pulang, aku belum berbagi kisah dengan suami. Mungkin bagi yang membaca tulisan ini, menganggap kalau aku  istri tak berbakti, mengambil keputusan besar tanpa meminta pendapat suami.

Tapi itulah yang terjadi. Suami justru memperoleh kabar kalo aku membawa pulang bayi dari suami Bidan Zakia. Tak percaya dengan info tersebut beliau menelphoneku saat ashar menjelang. Bahkan setelah mendapat jawaban langsung dariku, dia masih belum yakin.

Saat pulang kerja menjelang isya, dan melihat langsung sosok bayi mungil tersebut, barulah dia yakin bahwa semua itu nyata. Dan...pesona si anak wedok ternyata juga meluluhkan hati suami. 

Pun demikian dengan kedua anak lelakiku yang mulai beranjak dewasa. Mereka sangat antusias.

"Memiliki adik perempuan di usia dewasa itu sesuatu banget." Demikian diucapkan anak Lanang cilik saat dia mendapat rezeki materi, dan mengalihkan rezekinya itu untuk biaya aqiqah Adek wedok.

Tak jauh beda dengan si Adek, anak Lanang gede juga kerap menghadiahi Adek perempuannya dengan beragam pernak-pernik.

Bahkan seiring berjalannya waktu, banyak yang beropini kalo anak wedok memiliki kemiripan wajah yang begitu akurat denganku.

Keluargaku menyayanginya sepenuh hati. Namun kami harus legowo, di satu episode waktu nanti wajib menyampaikan kebenaran kepada anak wedok bahwa ayah dan kedua kakak lelakinya bukanlah wali nikahnya.

###RP###

Dalam keheningan malam, aku masih terpekur di depan laptop yang menyala. Menatap takjub pada barisan kalimat yang tercipta lebih dari dua tahun lalu.

Gadis kecil yang pada saat aku menulis status FB itu tak pernah hadir dalam bayangan, kini telah dua tahun mengisi rumah kami dengan celoteh lucu dan tingkah lakunya yang menggemaskan.

"Pelangi Kehidupan", nama yang sejatinya aku persiapkan untuk calon bayi tokoh wanita dalam novelku, akhirnya tersemat juga pada anak wedokku. Terkadang, fiksi itu adalah fakta yang tertunda.

Sebersit tanya menyeruak, apakah ini yang disebut dengan hukum tarik menarik? The Law of Attraction?

Apapun itu, kondisi ini benar-benar menggugah kesadaranku, bahwa selalu terselip do'a dalam setiap lisan atau tulisan. Pun sebagai selfreminder untuk selalu menulis yang bermanfaat.

Salatiga, 23012021

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Hihihi pas pilih nama tokoh itu dari yang kita sukai, jadinya bisa terbawa di dunia nyata nanti harinya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas nulis status itu, sama sekali gak terbayang kalo saya bakal dapet bayi, Mbak.😊

      Hapus
  2. Mbaa..ini sungguhan ya? Saya agak ragu-ragu, tapi bagaimanapun, saya berdoa semoga keberkahan menyertai mba beserta keluarga. Aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Beneran. Aamiin ya Allah. Makasih do'anya Mbak Tanti.🙏

      Hapus
  3. YaAllah beneran tho mbak ini? Tak kira fiksi. Prihatin sama nasib anak yg ngga diinginkan org tuanya huhua semoga bisa tumbuh jd anak sholehah ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Fakta bukan fiksi.😁😁😁 Aamiin ya Allah.🙏

      Hapus
  4. MasyaAllah... Bayi cantik yang kadang muncul di IG Mbak Ani juga ya?

    Nyesek baca kisah ibu Pelangi, dan di desaku masih banyak kasus hamil muda krn berbagai hal ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Mbak. Yang sering saya posting di IG dan FB.

      Iya, Mbak. Saya pertama lihat juga nyesek. Posturnya kecil, wajahnya masih kanak-kanak banget. Ngenes.

      Hapus
  5. Masya Allah, nangis aku mbak bacanya.. kasihan banget ibu sang bayi semoga pelakunya dapat balasan setimpal aamiin. Pelangi sudah bahagia bersama Mbak Rohani, ibu yang penuh kasih sayang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampe sekarang, kalo lihat berita di TV ada bayi dibuang, auto meluk Pelangi. Gak ngebayangi kalo dulu dia bernasib seperti itu. Untung kakek neneknya punya pikiran panjang untuk menyerahkan ke orang lain saja.

      Hapus
  6. Menyentuh sekali mbak.
    Di samping Law of Attraction, mungkin bisa juga The Power Of Pray/Words.

    Salam peluk hangat buat 'Pelangi Kehidupan' ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Mbak, kata-kata bijak yang menyebut, "ucapan adalah do'a" memang nyatanya.

      Salamnya udah ditempeli ke pipi Pelangi ya Mbak.😊😊😊

      Hapus
  7. Oalah, jebul nama Pelangi itu tadinya mau untuk nama tokoh si bayi tadi mba?
    Apik dan menyentuh banget mba kisahnya.

    Sik sik tapi aku bingung mba, kisah adopsi tadi tuh hanya untuk calon novel Mb Ani to? Apakah cerita nyata? Hahaha aku malah mbulet mbacanya, duh maapkan klo ga mudeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi...berarti aku nulisnya terlalu mbulet ya, Mbak. Sampe mbak Unik bingung.😁😁😁

      Awalnya nama Pelangi itu untuk calon bayi di novel. Sampe kubuat status FB pas tanggal 17 Jan 2019.

      Siapa sangka 6 hari setelah nulis status FB, aku ditawari bayi. Padahal pas nulis status itu sama sekali gak ada bayangan tentang bayi yg nyata. Cuma sekedar nulis aja.😁😁😁

      Hapus
  8. Ya Allah, jadi nyata ya mbak. Alhamdulillah sekarang "pelangi" udah sama ibu yg tepat :) ssetiap kebaikan dibalas dg kebaikan, aamiin

    BalasHapus