Darah Kosong, Kemana Mengadu?


Darah Kosong, Kemana Mengadu?
Oleh : Wahyu Maryaningsih

Puluhan orang mengantri darah di pusat-pusat kegiatan donor. Bulan puasa, saat dimana keberkahan mestinya ditebar, saat kebaikan mestinya diperbanyak, terdesak oleh banyak alasan.

Ibadah?
Seberapa lama beribadah? Haruskah sepanjang pagi, sore hingga malam akan berakhir dengan datangnya terang?
Donor darah hanya mengambil waktu seharian saja, besok, lusa tidak akan lagi. Dua bulan ke depan baru bisa donor lagi. Apakah merugi jika menunda jamaah tarawih dan menggantinya dengan donor darah sebentar saja?
Bukankah hingga terdengar adzan subuh waktu yang dipunya?

Jika Ramadhan yang mulia ini ibadah hanya sebatas lisan tanpa tindakan, di manakah makna sebenarnya dari penguatan iman?

Jika Ramadhan hanya alasan untuk berbaring lebih lama, untuk apa puasa?

Bukankah Rosululloh lebih menyukai orang yang pergi menyelesaikan masalah saudaranya daripada orang yang lama berdiam di masjid namun saudaranya kesulitan?

Jika donor mengambil waktu sholat tarawih di masjid sehari saja (sehari) bukankah bisa diganti dengan sholat berlama-lama di sepertiga malam?
Coba cek lagi, tanya ustad, benarkah?

Pandemi?
Alasan konyol jika pandemi menyebabkan takut pergi donor sedangkan pergi ke kafe, ke pasar bahkan konkow bareng teman masih berani dilakukan. Stop alasan! Jika pergi ke rumah sakit -yang notabene adalah rujukan covid- takut, kenapa tidak pergi ke PMI yang menurut pendapat lebih aman? Tolong, stop kekonyolan ini.

Tak ada waktu?
Bukankah masih sempat makan di luar bersama kekasih? Bukankah punya banyak waktu untuk berseluncur di dunia maya?
Satu, dua atau sepuluh episode drama korea bisa ditonton? Lalu mengapa donor yang sebentar saja tidak dilakukan?
Dua bulan sekali, terlalu banyakkah waktu yang diminta?

Tidak sehat? 
Baiklah, itu alasan yang paling logis untuk tidak berdonor. Lalu bagaimana bisa sehat jika makanan yang dikonsumsi tidak dijaga? Kolesterol main embat saja? Pernahkah berpikir hidup sehat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain juga? Pernahkah menjaga diri sendiri demi menjaga orang lain?


Lembaga.
Sudahkah maksimal mengajak orang donor darah? Sudahkah  memberikan kemudahan dan fasilits terbaik untuk para pahlawan yang  merelakan waktu berdonor?
Sudahkah memberikan edukasi tanpa lelah kepada khalayak? Atau cuma sekedarnya saja? Sumber daya kerahkan, tenaga mampukan, sosialisasi lakukan.

Put your self in pasient position. Try it!
Ketika paham kondisinya hanya bisa disembuhkan  dengan darah, sedangkan darah yang dimaksud tidak ada? Apakah mereka akan baik-baik saja?

Bagaimana dengan keluarga pasien? Tidakkah cukup kesedihan akan kesakitan keluarga yang mereka kasihi, mengapa masih harus ditambah dengan kebingungan mencari donor?

Ambil waktu sebentar, bayangkan ini. Seorang anak SMP yang tetiba tertabrak truk, dibawa ke IGD dan harus diamputasi hingga sebatas selangkangan. Perdarahan banyak hingga harus segera ditransfusi. Jika stok darah tidak ada, bagaimana kiranya nasib anak itu? 

Atau bisa mencoba yang ini. Ibu yang melahirkan dengan perdarahan mengucur seperti kran air. Sementara dia harus berjuang buat diri dan buah hatinya. Darah dibutuhkan hanya dalam hitungan menit. Bagaimana jika tak ada stok?

Jika masih sulit, andaikan saja kebakaran terjadi di sebuah rumah. Alat pemadamnya baru mau dibeli di toko. Kira-kira apakah rumah itu masih bisa diselamatkan?
Tolong pikirkan ini. Sebentar saja.

Donor darah mungkin menyakiti badan. Ditusuk benda tajam seperti jarum memang butuh keberanian. Tetapi itu sebentar, seperempat jam, satu jam, beberapa hari jika lebam. Tapi tak akan berhari-hari seperti para pasien yang sedang berjuang. Tak akan bertahun-tahun hingga akhir hayat seperti para penderita kelainan darah.

Coba posisikan diri di tempat pasien.

Sekarang, intiplah PMI. Intiplah UTDRS, di sana banyak orang mengantri donor untuk keluarga karena darah kosong. 

Duduklah sebentar bersama mereka, tanyakan dimana rumah mereka. Kalimantan, Sulawesi, Jepara? Dekat? 
Tanya lagi, di Semarang mereka punya sanak keluarga? Punya tetangga?

Pindahlah ke sebelahnya, ke bapak tua renta yang mungkin membaca formulir donor saja sudah tidak mampu. Siapakah yang mau donor? Diakah, yang tubuhnya hanya tinggal tulang? Donor untuk siapa? Istrinya yang terbaring lemah tanpa teman?

Lalu cobalah beralih ke lelaki muda yang bersemangat donor meski mukanya kuyu. Donor untuk siapa? Untuk putri kecilnya yang baru berusia beberapa hari dan kini harus tinggal di incubator untuk bertahan hidup? Tanyalah lagi, sudahkah lelaki itu tidur cukup semalam? Sudah sahur?  Lalu apakah bisa dibilang donornya berkualitas? 

Seberapa lama keadaan ini akan berlangsung? Ini baru awal Ramadhan, belum lebaran, dan debar jantung sudah dipacu sedemikian kencang. Sampai kapan mereka bisa bertahan?

Pernahkah terpikirkan, jika tiap diri menyadari kondisi dan tiap diri bersedia mendonorkan darah dengan sukarela, tak akan ada orang yang kekurangan darah lagi. Tak akan ada kebingungan pasien.



Semarang, Ramadhan hari kelima. 

Dalam doa tanpa henti, dalam usaha meskipun lelah.

Posting Komentar

0 Komentar