Untukmu, Lelaki Berteman Sepi



Biasanya, saat aku berkegiatan di tempat ini, kau selalu menyempatkan diri untuk menemuiku. Sekejap, dua kejap, sekedar mengikis rindu.

Terkadang, saat kau memiliki cukup waktu luang, kita bahkan bisa menikmati makan siang bersama. Tapi kali ini, kau tak memiliki kuasa untuk melakukannya. Begitu pun denganku.

###RP###

Hari ini, aku kembali ke sini untuk mengestafetkan satu amanah. Dan setelah amanah tersampaikan, aku langsung undur diri.

Aku sedang duduk santai di depan mini cafe dekat paviliun, bermaksud memesan armada online, ketika panggilan masuk atas namamu terpampang di layar.

"Assalamualaikum?" sapaku spontan.

"Waalaikumussalam. Sudah selesai acaranya?" Dengan nada bicara yang terdengar begitu lemah, kau masih menyempatkan diri menghubungiku.

"Udah. Ini udah di luar paviliun, baru mo order G**ar. Njenengan WA saja, ya. Gak usah nelpon, masih lemah banget gitu lho." Aku berusaha membujukmu untuk menutup panggilan.

"Gak papa. Saya kan pengen ngobrol dengan Njenengan." Kau keukeuh tak hendak mengakhiri panggilanmu.

"Ya udah. Tapi gak usah lama-lama, ya." Kuusahakan untuk berbicara dengan nada selembut mungkin.

Aku sangat memahami kalau kau sedang berkalung sepi. Mungkin perbincangan singkat kita bisa menjadi pengobat sepi dan sakitmu. Okelah kalau begitu.

"Njenengan sudah sarapan?" Pertanyaan basa basi yang tak begitu penting kuajukan padamu.

"Sudah. Sebenarnya saya gak nafsu makan sama sekali. Tapi saya pengen segera sehat."

Ah...kau, semangat dan totalitasmu dalam segala hal selalu membiusku. Pun dalam melabuhkan perasaanmu di dermagaku. Kau benar-benar seorang pejuang tangguh yang pantang menyerah.

"Good job, Man." Pujian singkat kuucapkan untuk memompa semangatmu.

"Njenengan sendiri udah sarapan, belum?"

"Belum. Rencananya dari sini mau cari sarapan dulu."

"Mo sarapan di mana?"

"Di mana aja yang penting gak di-timer dua puluh menit." Kau mengurai tawa di ujung sambungan, mendengar jawabanku.

"Mungkin di daerah atas, sekalian arah pulang." Aku melanjutkan ujaran.

"Jaga diri baik-baik, ya. Maaf, saya gak bisa nemenin dan nganter Njenengan." Duh ... ujaranmu sungguh membuatku tercekat.

Aku laru luruh. Ujung mataku memanas karena kristal bening. Kau selalu seperti itu, merasa tak enak hati ketika tak mampu melakukan sesuatu untuk orang-orang terdekatmu. Padahal kau sendiri sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.

"Hey ... saya wanita perkasa lho. Gak usah mengkhawatirkan saya. Yang penting Njenengan cepat pulih. Semangat! Jangan pernah merasa sepi dan sedih. Ingat tho itu kalimat siapa?" Aku merespon kekhawatiranmu dengan mengurai satu kalimat yang dulu pernah kau tujukan untukku.

Diriku sangat mampu merasakan kesepian yang kau alami. Namun, aku tak ingin menunjukkannya padamu. Kuputuskan untuk mengakhiri adegan yang penuh dengan dialog ini. Aku takut tak mampu menutupi rasa sedihku untukmu.

"Sudah, ya. Njenengan istirahat dulu. Saya mo order G**ar. Saya selalu ada buat Njenengan. Cepat sembuh, ya, karena lembaran diary kita masih belum penuh." Kucoba  sedikit ber-bucin ria. Hal yang selama ini sering kau lakukan untukku.

"Always adore, You," balasanmu atas kalimatku. 

Aku mengulum senyum mendengar ungkapan kekagumanmu yang seolah bagai tagline. Kalimat andalan yang selalu terucap olehmu -lelaki paruh baya berteman sepi-.


Semarang, 05082021

Posting Komentar

0 Komentar