Fiksi Adalah Fakta yang Tertunda


Beberapa waktu yang lalu saya membaca postingan Bunda Pipiet Senja yang berjudul 'Penulis Bisa Jadi Meramalkan Garis Nasibnya'.

Inti dari tulisan itu lebih kurang begini; tanpa kita sadari sering kali apa-apa yang kita tulis bisa menjadi takdir kita di dunia nyata 

Saya setuju dengan Bunda Pipit bahwa ungkapan atau goresan pena bisa menjadi do'a bagi penulisnya. Karena kita tahu bahwa setiap ucapan itu mengandung do'a, baik ucapan lisan atau tulisan. Dan seperti yang tertoreh pada satu hadist nabi, bahwa tak ada yang dapat menolak takdir selain do'a.

Makanya para tetua zaman dulu sering berpesan, "Kalo bicara yang baik-baik, karena setiap ucapan itu mengandung do'a".

Pun sebuah filosofi modern, The Law of Attraction mengangkat satu  konsep yang menyatakan pemikiran positif akan berdampak positif pula bagi kehidupan seseorang. Di sisi lain, pemikiran negatif pun akan membuahkan hal serupa. Namun, konsep ini memang belum teruji secara ilmiah.

Saya sendiri juga pernah posting tulisan sejenis di satu grup literasi -KBM lama yang sudah almarhum-. Judulnya 'Hati-hati dengan Ucapanmu'.

Waktu itu saya mengambil contoh beberapa penyanyi ngetop pada masa lalu, yang lagu-lagunya menduduki top hits list. Qadarullah, nasib mereka tak jauh beda dengan lagu-lagu hits yang pernah mereka nyanyikan.

Secara logika, lagu hits yang diputar ratusan kali dalam sehari di ribuan stasiun radio di seluruh Indonesia, seolah bagai rapalan do'a yang diucapkan oleh para penyanyi tersebut. Rapalan do'a itu sangat intens hingga terwujud dalam kehidupan nyata.

Demikian juga dengan penulis. Biasanya, ketika seorang penulis ingin memberi ruh pada tulisannya, dia akan totalitas menjiwai tulisan tersebut. Memasukkan karakter-karakter dalam tulisannya pada tokoh-tokoh di dunia nyata, bahkan kadang ke dirinya sendiri.

Pada tahun 2018, saya menulis cerbung di KBM. Tulisan tersebut terdiri dari tiga sekuel. Masing-masing sekuel terdiri dari 4 part, 11 part, dan 24 part.

Sekian persen dari cerbung tersebut berdasarkan kisah nyata. Sekian persen lainnya merupakan hasil olahan diksi dan imajinasi saya.

Cerbung tersebut akhirnya berwujud novel dwilogi. 
Dan...tahukah apa yang terjadi?

Sekian persen yang merupakan hasil olahan diksi dan imajinasi itu saya alami di dunia nyata. Bukan hanya secara garis besar, tapi ada yang persis adegan per adegan.

Tulisan berikut salah satu kejadian yang tidakk pernah saya bayangkan sebelumnya, justru benar-benar terjadi di dunia nyata. Dan saya rangkum dalam sebuah kisah dengan alur mundur.

###RP###


Facebook memunculkan satu kenangan di berandaku.

*Sebuah nama indah sudah kupersiapkan untuk menyambut kehadiranmu, "Pelangi Kehidupan"*

Rangkaian kalimat di atas adalah status Facebook yang pernah kutulis pada tanggal 17 Januari 2019. 

Status  tersebut sebenarnya berkaitan dengan cerita bersambung -sekarang  sudah menjadi novel- yang sedang kugarap di salah satu grup literasi. Tokoh utama wanita di cerbung itu sedang menanti  kelahiran anak keempatnya. Jadi status itu seolah-olah merupakan ucapan dari sang tokoh wanita.

###RP###

 [Bunda, mau  anak perempuan?] Tiada angin tiada hujan, seuntai pesan dari Bidan Zakia  menghiasi gawai.

Bu Zakia adalah seorang bidan desa yang berdinas di lereng Gunung Ungaran. Pertemananku dan Bu Bidan terjalin karena suami kami bekerja dalam satu instansi yang sama.

Dan ketika di Rabu pagi  23 Januari 2019 itu, Bu Bidan mengirim pesan dalam bentuk pertanyaan di atas, dadaku bergetar. Jauh di lubuk hati terdalam, aku memang menyimpan satu keinginan terpendam yang tak pernah terungkap, memiliki anak perempuan. 

Keinginan itu semakin membuncah saat aku terpikat oleh sosok Mentari. Aku jatuh hati padanya, tokoh gadis kecil dalam novelku Romansa Puber Kedua. Saat pertama kami bertemu, usianya masih sebelas tahun.

Pesan dari Bidan Zakia tak segera berbalas.  Memoriku seolah berusaha mencerna dan menyesap pertanyaan  tak biasa itu.

[Mau banget, Mbak.] Setelah tergugah dari limbung sesaat, tanpa pikir panjang aku  menangkap tawaran menggiurkan tersebut. 

[Sekarang Adeknya ada di mana, Mbak?] Pesan susulan kembali kukirim.

[ Tapi belum lahir, Bun. Masih harus menunggu sebulan lagi, karena ini kehamilannya masih delapan bulan.]

[ Mau banget, Mbak. Gak papa nunggu sebulan lagi, yang penting perempuan ya. Kalau cowok, aku gak mau lho.]

[ Ya, Bunda. Ni hasil USG nya perempuan kok, Bun.]

Saat hendak membalas pesan Bidan Zakia, panggilan suara menggetarkan gawaiku. 

"Assalamualaikum, Mbak," sapaku pada Bidan Zakia.

Detik selanjutnya, dua ibu beda usia inipun tenggelam dalam perbincangan seputar sang jabang bayi.

Mengalir kisah dari lisan Bidan Zakia kenapa keluarga calon bayi tak hendak merawatnya.

Adalah seorang gadis kecil berusia empat belas tahun yang menjadi calon ibu sang bayi. Remaja malang itu hamil akibat pelecehan seksual yang dilakukan oleh tetangganya. Lelaki dewasa yang telah memiliki anak istri.

Refleks bathinku berteriak, "Ba.ji.ng.an."

Bagiku, lelaki laknat tersebut tak layak menyandang status sebagai manusia.

Bidan Zakia bertutur bahwa keluarga si gadis kecil nan malang itu lebih memilih menutup aib dari pada menempuh jalur hukum demi mencari keadilan.

Dengan kondisi ekonomi di bawah garis kemiskinan, tak pernah mengenyam pendidikan, dan hidup terpencil di kaki gunung, membuat mereka pesimis dengan segala sesuatu yang berbau hukum.

Pasangan suami istri lugu tersebut terus membujuk Bidan Zakia untuk mencarikan orang yang berkenan mengasuh calon cucu mereka.

Sebenarnya ada dua pasang suami istri yang berminat terhadap calon jabang bayi. Namun pada akhirnya, pasangan pertama mundur setelah mengetahui kisah ibu si bayi.

Sementara pasangan kedua tetap legowo dan antusias ingin menimang bayi yang masih terlelap hangat dalam rahim bundanya tersebut.

Namun Bidan Zakia lah yang tak rela menyerahkannya mengingat ada perbedaan prinsip antara calon keluarga angkat dan bayi. Beliau tidak ingin ikut menanggung dosa dengan memindahkan aqidah si calon bayi.

Itulah kenapa akhirnya beliau menghubungi dan memberiku tawaran besar ini. Naluri keibuanku tergerak. Sungguh diri ini tak perduli dengan asal-usul sang bayi, tapi justru rasa iba begitu mendominasi  terhadap bayi yang tak diharapkan tersebut. Itulah mengapa aku menyanggupi untuk mengadopsinya.

###RP###

Embun pagi masih menempel di rerumputan. Udara begitu segar, matahari bersinar cerah. Aku baru saja selesai inspeksi halaman, menyapa beberapa tetumbuhan yang sedang memunculkan bakal buah. Saat kaki melangkah masuk ke rumah, handphone yang terletak di atas meja tivi berdering. Panggilan dari Bidan Zakia.

"Assalamualaikum, Mbak," sapaku pada bidan baik hati tersebut.

"Waalaikumussalam, Bunda. Bun, dedeknya udah lahir tadi malam. Cewek, Bun." Dengan antusias ibu dua anak tersebut menyampaikan kabar mengagetkan namun berbalut kegembiraan.

Jujur...saat itu perasaanku campur aduk. Senang, bingung, ragu.

Aku senang karena keinginan memiliki anak perempuan segera terwujud. Namun tetiba terjadi pergolakan bathin yang menumbuhkan bibit keraguan. Setan seolah menggodaku untuk ingkar janji. Seketika muncul berbagai alasan yang memberatkan. Tentang  usiaku yang sudah tak muda lagi, juga tentang  giat aktivitasku di luar rumah, sehingga ada kekhawatiran si bayi bakal membatasi ruang gerak dan kegiatanku.

Sementara kebingungan juga melanda hati. Kabar ini terlalu mendadak, aku belum bersiap diri. Tadinya kukira masih ada waktu satu bulan untuk mempersiapkan segalanya, termasuk berkisah kepada suami. Tapi belum sempat  bergerak, bayi tak berdosa itu keburu lahir ke dunia. 

Namun, di sisi lain diri ini sudah mengikrarkan janji untuk mengadopsinya.

"Lho...kemarin kata Mbak masih sebulan lagi lahirannya?" Kurespon informasi yang disampaikan Bidan Zakia dengan seuntai tanya. 

"Iya, Bun. Tapi ternyata tadi malam jam sepuluh udah lahir. Saya udah ngomong sama keluarga bayi kalo ada yang bersedia mengadopsi. Jadi sekarang ini  keluarga bayi nunggu Bunda di rumah sakit."

Tak ingin ingkar janji dan menjadi manusia munafik, sekitar pukul 10.00, ditemani anak lanang gede, kami meluncur ke rumah sakit. 

Sepanjang perjalanan labirin otakku terus bekerja memikirkan segala hal. Bertanya pada diri sendiri, sudah tepatkah keputusan yang kuambil ini. Bahkan sempat terbersit satu niat, kalo nanti aku tak memiliki chemistry terhadap sang bayi, ada baiknya aku bicara terus terang kepada keluarganya bahwa ternyata aku belum cocok dengan bayi mereka.

Aku dan anak Lanang tiba di rumah sakit tiga puluh menit kemudian. Jam besuk belum dibuka. Kami masih harus menunggu setengah jam ke depan. 

Pergulatan bathin masih terus berkecamuk. Berbagai rasa memenuhi rongga hati. Penasaran, deg-degan, dan ragu yang terus menggelayut.

Jam sebelas tepat kami masuk ke ruang perawatan kelas III. Perawat mengantar kami ke bilik pasien yang dituju.

Saat pandang mata melihat langsung wujud si bayi, aku meleleh.... Hatiku teriris perih, mata mengabur terlapisi kristal bening. Bahkan saat itu, diriku belum saling sapa dengan ibu, serta kakek nenek si dedek.

Ntah lah...ada haru, sedih, bahagia, dan keyakinan yang tiba-tiba muncul di sudut sanubari. Haru dan sedih melihat bayi cantik nan sehat namun tak diharapkan oleh orang tuanya. Bahkan ketika usianya masih tiga belas jam, dia harus terpisah dari trah-nya. Ada sedikit penyesalan tentang keraguan yang sempat hinggap. Kuyakinkan pada diri bahwa  bahwa aku siap dan mampu menjadi ibu lahir dan bathin buat si dedek.

Aku...jatuh cinta padanya sejak pandang pertama.

###RP###

Diiringi gerimis tipis, dalam kendaraan yang sedang melaju, bayi cantik nan menggemaskan itu kudekap dalam pelukan, membawanya menuju  kehangatan keluarga baru.

Satu hal absurd, bahkan suami belum mengetahui sama sekali tentang keputusanku ini.

Sejak Bidan Zakia memberi penawaran, hingga bayi mungil itu kubawa pulang, aku belum berbagi kisah dengan suami. Mungkin bagi yang membaca tulisan ini, menganggap kalo aku  istri tak berbakti, mengambil keputusan besar tanpa meminta pendapat suami.

Tapi itulah yang terjadi. Suami justru memperoleh kabar kalo aku membawa pulang bayi dari suami Bidan Zakia. Tak percaya dengan info tersebut beliau menelphoneku saat ashar menjelang. Bahkan setelah mendapat jawaban langsung dariku, dia masih belum yakin.

Saat pulang kerja menjelang isya, dan melihat langsung sosok bayi mungil tersebut, barulah dia yakin bahwa semua itu nyata. Dan...pesona si anak wedok ternyata juga meluluhkan hati suami. 

Pun demikian dengan kedua anak lelakiku yang mulai beranjak dewasa. Mereka sangat antusias.

"Memiliki adik perempuan di usia dewasa itu sesuatu banget." Demikian diucapkan anak Lanang cilik saat dia mendapat rezeki materi, dan mengalihkan rezekinya itu untuk biaya aqiqah Adek wedok.

Tak jauh beda dengan si Adek, anak Lanang gede juga kerap menghadiahi Adek perempuannya dengan beragam pernak-pernik.

Bahkan seiring berjalannya waktu, banyak yang beropini kalo anak wedok memiliki kemiripan wajah yang begitu akurat denganku.

Keluargaku menyayanginya sepenuh hati. Namun kami harus legowo, di satu episode waktu nanti wajib menyampaikan kebenaran kepada anak wedok bahwa ayah dan kedua kakak lelakinya bukanlah wali nikahnya.

###RP###

Dalam keheningan malam, aku masih terpekur di depan laptop yang menyala. Menatap takjub pada barisan kalimat yang tercipta hampir tiga tahun lalu.

Gadis kecil yang pada saat aku menulis status FB itu tak pernah hadir dalam bayangan, kini justru hampir tiga tahun mengisi rumah kami dengan celoteh lucu dan tingkah lakunya yang menggemaskan.

"Pelangi Kehidupan", nama yang sejatinya aku persiapkan untuk calon bayi tokoh wanita dalam novelku, akhirnya tersemat juga pada anak wedokku. Terkadang, fiksi itu adalah fakta yang tertunda.

Sebersit tanya menyeruak, apakah ini yang disebut dengan hukum tarik menarik? The Law of Attraction?

Apapun itu, kondisi ini benar-benar menggugah kesadaranku bahwa selalu terselip do'a dalam setiap lisan atau tulisan. Pun sebagai selfreminder untuk selalu menulis yang bermanfaat.



Salatiga, 26032021

Posting Komentar

0 Komentar