Bermalam Takbir Bersama Pasien Anak


Tak banyak yang menyadari, dalam keriuhan hari kemenangan, ada jiwa-jiwa tangguh yang sedang berikhtiar menjemput kesembuhan.

Jauh dari rumah, jauh dari sanak keluarga, mereka -para pejuang sehat kanak-kanak- harus ikhlas menerima takdir, terkurung dalam dinding-dinding beku rumah sakit.

###Rp###

Hari terakhir Ramadhan, tepat jam empat sore perwakilan Teras Sedekah -aku dan Mbak Sapta- meluncur ke Semarang untuk mendistribusikan amanah para donatur dalam program Bermalam Takbir Bersama Pasien Anak

Dari Salatiga menuju persinggahan pertama, asrama Kebon Polo Ungaran, untuk menjemput Mbak Rita, seorang relawan independen. Dan di lokasi nanti, akan ada seorang relawan independen lain -Mas Nank- yang bergabung dengan kami.

Selanjutnya perjalanan diteruskan ke Semarang, mencari persinggahan untuk berbuka puasa juga sholat Maghrib.

###Rp###

Kami tiba di lokasi sekitar pukul setengah tujuh malam, tepat saat alunan takbir mulai bergema.

Tak dapat terurai dengan kata-kata, bagaimana perasaan kami saat itu. Berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang demikian sepi, diiringi suara takbir dari beberapa lokasi di luar rumah sakit. Sedih dan perih. 

Sebelum bertatap langsung dengan adik-adik pasien, terlebih dahulu kami berkoordinasi dengan para perawat tentang jumlah pasien.

Berhubung jumlah pasien ternyata lebih sedikit dari jumlah amplop THR yang kami sediakan, akhirnya sebagian amplop isinya dikeluarkan dan ditambahkan ke amplop-amplop sejumlah pasien. 

Inilah konsep rezeki. Sebelumnya kami sudah menetapkan jumlah nominal peranak berdasarkan laporan jumlah pasien pada hari Sabtu sore. Ternyata di hari Ahad, sebagian pasien yang sudah terlaporkan ke kami, diperbolehkan untuk pulang. 

Bagi anak-anak yang masih stay di rumah sakit, mereka mendapat rezeki lebih besar dari perhitungan awal kami. Sementara bagi adik-adik yang sudah pulang, walau telah tercatat dalam daftar kami, tapi ternyata THR itu bukan rezeki mereka. Rezeki mereka adalah kesehatan, hingga diperbolehkan pulang dan berkumpul bersama dengan keluarga untuk merayakan lebaran.

###Rp###

Puncak kegiatan, saat kami mulai masuk dari kamar ke kamar untuk berinteraksi langsung dengan adik-adik pasien.

Acara ini minus seremonial, jadi spontan dan tanpa formil-formilan. Orang tua para pasien terlihat surprise dan terharu ketika putra putri mereka menerima amplop lebaran juga bingkisan snack.


Satu hal yang menjadi tamparan telak bagi kami, saat melihat begitu ceria dan ikhlasnya mereka walau harus berlebaran dalam kurungan tembok putih rumah sakit. 

Sementara, kita -sebagai manusia sehat- sering sekali mengeluh saat kebutuhan lebaran tak terpenuhi secara maksimal sesuai keinginan (bukan kebutuhan).

Beberapa pasien leukimia, hidrosefalus, tumor pencernaan, tumor otak, kecelakaan, bahkan satu pasien di ruang isolasi mengidap penyakit langka, hanya dalam kurun waktu tiga bulan, kondisinya drop ke titik nadir hingga keadaannya sangat memprihatinkan.


Seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun, dengan wajah sumringah lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Tak terlihat sedikitpun gurat sedih saat dia berkisah bahwa kakinya harus diamputasi sebatas paha karena tumor tulang.

###Rp###

Rasa perih semakin menusuk-nusuk relung hati saat kami beralih ke ruang NICU (ICU-nya pasien anak). Di sini kami tidak  bertemu langsung dengan pasien, walau sebenarnya kami diizinkan untuk masuk dengan mengikuti prosedur yang berlaku tentunya.


Pertimbangan kami menolak bertemu langsung dengan adik-adik pasien, karena  kondisi mereka sedang berada dalam fase yang sangat rentan. Kemudian juga karena malam yang semakin menua.

Akhirnya untuk pasien NICU, amanah para donatur hanya kami titipkan ke para orang tua pasien. 

Nah...satu lagi pemandangan mengiris hati yang terpampang langsung di depan mata.  Pasien NICU tidak boleh didampingi, sehingga para orang tua ini hanya bisa menunggu putra putri mereka di selasar/teras ruangan  NICU. Di situlah mereka menggelar tikar/karpet untuk tidur, beristirahat, makan, juga berinteraksi dengan sesama mereka.

Sampai di titik ini, aku benar-benar tak mampu menahan bulir bening yang mendobrak netra saat menyerahkan satu persatu amplop dan bingkisan snack.  Membayangkan para ibu yang menanti kabar putra putrinya dengan fasilitas seadanya, dan  dengan perasaan harap-harap cemas. Apakah buah hati mereka akan dipindah ke ruang perawatan atau dipindah ke pemakaman.

###Rp###

Teman ... pengalaman bermalam takbir dengan pasien anak benar-benar memberi kami begitu banyak pelajaran hidup, terutama pelajaran untuk selalu berucap syukur atas kesehatan yang Allah titipkan kepada kami.

Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi cermin syukur untuk kita semua. Dan semoga, lebaran tahun depan, kami masih diberi umur hingga bisa kembali menjalankan program ini.

Terakhir, namun bukan yang tersisa, ucapan terima kasih tak terhingga kami haturkan kepada para donatur di Sergei-Sumut, Semarang, Malaysia, juga Masyarakat Muslim Indonesia di Frankfurt Jerman, atas donasi yang diamanahkan kepada kami, hingga program ini bisa terlaksana dengan maksimal. Semoga kepedulian panjenengan semua menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Aamiin.


Salatiga, 03052022

Posting Komentar

0 Komentar