Pertanggung Jawaban Publik : A Tribute to Patients/Doctors II


Hari ke-5 Ramadhan, tepatnya Sabtu, 17 April 2021, Mbak Dini dan aku meluncur menuju Rumah Sakit Kariadi Semarang. Kami mewakili teman-teman kontributor antologi Tribute II untuk menyalurkan donasi hasil penjualan buku.

Eh...sebenernya gak enak juga sih, soalnya penyaluran donasi ini sempat tertunda sekian waktu. Ya...tau sendiri kan, pandemi membatasi segalanya, terutama masalah izin.

Sebenernya kami tu pengen seperti tahun lalu, bisa turun langsung ke bangsal anak. Namun apa hendak dikata, dalam situasi seperti sekarang ini, berdonasi dan berinteraksi langsung dengan pasien hanyalah suatu keniscayaan.

Bersyukur UTD RSDK berkenan menjembatani donasi kami untuk para relawan donor darah. Terima kasih kami untuk Dokter Muji selaku Kepala Instalasi Laboratorium Terpadu yang telah memberi izin, juga untuk team UTD yang menerima kami dengan sangat ramah.

Jadi... kami berdonasi dalam wujud kaos ucapan terima kasih untuk pendonor. Sementara pendonor mendonasikan darah mereka untuk pasien. Insyaa Allah donasi Tribute II tetap dalam lingkaran kebutuhan pasien.

Oke...balik lagi ke cerita awal yuk.
Mbak Dini dan aku nyampe di Kariadi sekitar pukul 8.30. Bu Wahyu, sebagai Katim UTD menjemput kami di fasum, pintu masuk bagi pengunjung.

Tiba di UTD, Alhamdulillah langsung ketemu Dokter Like. Beliau ini  sebagai yang mewakili penanggung jawab UTD. Selain Dokter Like, juga ada Bu Rita, PIC Distribusi Darah. Nah...karena donasi ini sifatnya individu (bukan dari instansi, lembaga, atau yayasan), so gak perlu pake seremonial segala. Pokoknya nyantai, akrab, dan penuh kekeluargaan.

Setelah ngobrol sejenak dengan Dokter Like, Bu Rita, dan Bu Wahyu, langsung ke sesi photo bersama. Ini nih moment yang paling penting😁😁😁. Soalnya photo ini yang akan bicara sebagai   bukti otentik untuk pertanggung jawaban publik.

Usai sesi photo, fix empat lusin kaos berlogo empat golongan darah kami titipkan ke UTD. Selanjutnya kaos akan diberikan kepada relawan yang berdonor selama bulan Ramadhan.

Eh...iya, Alhamdulillah Mbak Dini sekalian menyempatkan diri untuk berdonor lho. Berkah Ramadhan, setelah beberapa hari yang lalu, beliau sempat tertolak berdonor karena Hb rendah, hari ini dalam kondisi puasa justru bisa lolos screening.


Lihat Mbak Dini berbaring nyaman di sofa merah, diriku jadi mupeng. Tapi apalah daya...diri ini harus puasa donor dulu selama enam bulan akibat terpapar covid beberapa waktu yang lalu.

Anjangsana singkat ke UTD hari ini membawa banyak kisah. Walau tak semuluk telenovela dan tak sehalu cerita fiksi, namun kisah Tribute dan UTD tetap menarik untuk disimak.

Paragraph pamungkas, khusus kupersembahkan untuk para kontributor, dan  narasumber, terima kasih untuk sumbangsih tanpa batasnya. Dan untuk semua pembeli juga pembaca Tribute II, terima kasih sudah berkenan meminang buku kami, karena dengan uang anda kami berdonasi.


Salatiga, 17 April 2021.

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Keren mbak. Kalau saya sering ditolak donor karena hb dari dulu sering rendah huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga lagi libur donor selama 6 bulan, Mbak, akibat kemarin terpapar.

      Hapus
  2. MasyaAllah, berkah ya mbak. Pengen bisa donor deh. Ditolak mulu karena hb rendah, bb kurang. Aku kudu piye πŸ˜…

    BalasHapus
  3. Lucu banget tasnya. Desain cover bukunya bagus, ya. Salut buat aksi sosialnya.

    BalasHapus
  4. Aku sukai bgt sama tasnya .kece bgt mbak...wah seru ya mb donasinya. Alhamdulillah bisa donor darah juga ya

    BalasHapus
  5. alhamdulillah ya.mba..sudah bisa berbagi dengan hasil kreativitasnya. semoga berkah utk semuanya ya..

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah, sudah diserahkan ya hasil donasi dari bukunya Mbak, keren banget sepak terjang Mbak Rohani dan teman-teman, semoga bermanfaat dan makin produktif berkarya ya.. Aamiin..

    BalasHapus
  7. Gua keren banget, kemarin mau donor buat alam adek aku ditolak karena hb gak cukup (ToT)(╯︵╰,)

    BalasHapus
  8. Aktivitas yg inspiratif.
    Btw, jadi tau, survivor Covid belum boleh donor darah rutin kah? Bisanya donor kalo pas ada yg butuh saja?

    BalasHapus
  9. Kenapa kalo habis covid ga boleh donor mbak? Apakah masih ada kemungkinan carrier virusnya x ya? Syukurlah donasi udah terkumpul ya seneng ya bisa berbagi

    BalasHapus
  10. Wah inspiratif banget Mba kegiatannya, aku baru tahu kalau habis kena COVID-19 nggak boleh donor

    BalasHapus
  11. Barokallah mba Rohani luar biasa dan teman-teman yang lain terus menginspirasi ya mba, sukses selalu untuk semuanya

    BalasHapus
  12. Kegiatan mba Hani selalu inspiratif, berkah ya mba. Oh aku malah belum pernah loh donor darah saat puasa. Pikiranku kalo hari biasa aja HB kurang apalagi kalo puasa. Sedih sebenarnya karena nyaris 3 tahun ini gak bisa dondar lagi

    BalasHapus
  13. Aku ga pernah bisa lolos donor mba karena tipe pemilik Hb rendah sepanjang masa 😁

    Dulu pernah mau donor utk ayahnya temanku aja ditolak gara2 Hb rendah. Salut dengan semua orang yang berada dalam kondisi prima dan bersedia donor darah.

    Salut juga untuk Mba Ani, Mb Dini dan semua kontributor buku ini yang berkenan berdonasi dengan cara yang spesial.

    BalasHapus
  14. Mbak Ani tuh asli mana to? Tempo hari aku lihat di IG sedang sama sinok di Kota Lama, eh bener nggak sih? Atau aku salah lihat.

    Barokallah untuk perjuangan dalam aksi kegiatan sosial yang Mbak Ani lakukan bersama teman-teman. Semoga mendapat ridho dan berkahNya.

    BalasHapus